Lulusan Pertanian, Jangan Malu Jadi Petani
Dok. Cozer

Retno Wulandari

28 September 2017


LULUSAN PERTANIAN, JANGAN MALU JADI PETANI


Survey (dari mana?) menunjukkan hanya kurang dari 20% lulusan pertanian yang bekerja pada bidang pertanian. Hal ini mungkin terkait stigma yang melekat pada diri petani adalah orang miskin, pakaian lusuh, kotor, dan lain lain. “Mikir petani jangan seperti itu. Lihat negara Prancis. Orang kaya disana malah para petani dan pertanian sebagai sumber devisa ketiga,” ujar Drs. Gunawan Yulianto, M.M., M.Si, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian – Kementrian Pertanian, dalam Dialog Kebangsaan “Wujudkan Pertanian Indonesia dengan Semangat Pancasila” di Ruang Seminar Fakultas Pertanian, Sabtu (23/09/2017).

“Tanah subur air melimpah tapi kita makan masih disuapi petani Thailand. Di mana letak kemerdekaan kita? Fakultas pertanian di Indonesia ada sekitar 100, ke mana saja lulusannya? Kalian lah yang bertanggung jawab menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia,” ujar Drs. Gunawan.

Membangun pertanian bisa dimulai dari pendidikan pertaniannya. Sesuai misi Kementerian Pertanian yaitu kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani, peran mahasiswa dibutuhkan untuk menyukseskannya. Hal ini dapat dilakukan dari aksi sederhana seperti mau terjun ke lapangan dan berbagi ilmu pada masyarakat. Untuk itu, saat ini Kementerian Pertanian bermitra dengan PTN melalui kegiatan pendampingan mahasiswa dan pendanaan sebesar 35juta/kelompok.

Kesuksesan pertanian kelak bisa menjadi indikator kesuksesan bangsa. Jumlah petani saat ini sebanyak 31,6 juta rumah tangga. Dengan mayoritas rakyat miskin di desa sebagai buruh tani, maka jika ini sejahtera berarti rakyat miskin telah sejahtera. “Selain itu 74% petani tidak lulus SD. Tantangannya saat ini adalah bagaimana agar anak-anak petani mau melanjutkan menjadi petani,” tambah Drs. Gunawan.

Hadir juga dalam acara ini, Kolonel Indro Respati dan Ir. Joko Wiryanto M.Sc (Sekretaris KTNA Kalbar dan Ketua Asosiasi Penyuluh Swadaya Kalbar). Sebagai penutup, Drs. Gunawan menuturkan, “Akademisi sudah banyak. Yang kita butuhkan adalah sarjana terapan. Pertanian itu tidak melangit tapi membumi, yang penting mau kerja.”. Ditambahkan Joko Wiryanto, “Syarat jadi petani harus mau belepotan,” ujar pria yang mengawali karir sebagai petani di Kalbar bermodalkan Rp.80.000 saja tersebut. (Lucia Yuriko)


comments
no comment

LAINNYA