Knowledge Management Perlu Perhatian Serius

Retno Wulandari

26 September 2017


KNOWLEDGE MANAGEMENT PERLU PERHATIAN SERIUS


Persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Jika tidak berjuang, maka akan mudah tersingkirkan. Menyerap ilmu pengetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya selama bekerja, bisa jadi salah satu trik memperkaya diri. Hal ini menimbulkan isu mengenai Knowledge Management (KM) atau Manajemen Pengetahuan. Bagaimana mengidentifikasi pengetahuan di otak pekerja masih menjadi PR bagi sebagian orang. Jika hal ini tidak diseriusi, terbayang berapa banyak pekerja yang dapat pergi dengan bebas ke perusahaan lain, setelah menimba ilmu di perusahaan tersebut.

“Masalahnya, tidak ada manajemen struktur sistem untuk menggaransikan karyawan yang pergi dengan ilmu. Tidak ada persyaratan standar,” ujar Yuli Prihartono, ST, MBA. Manager Drill & Blast Dept. PT.KPC (Kaltim Prima Coal),  saat berbagi ilmunya dalam Stadium General “Development of Knowledge Management in Drill & Blast Department” di Ruang Seminar FE UPN Yogyakarta, Jumat (22/09/2017)

Sejauh ini banyak cara untuk mengidentifikasikan ilmu. Yaitu capture, mapping, communication, example, hingga learning sharing antar individu. Komponen Knowledge Management sendiri terdiri dari people, process, technology, dan governance (tata kelola). Data analisis komponennya sebagai berikut, People, membutuhkan KM team. Proses, berbagi budaya dan pengetahuan. Teknologi, tidak adanya pusat database KM. Tata kelola, KM belum muncul. Analisis ini didapatkan dari penelitian Yuli Prihartono saat mengerjakan tesisnya. “Setelah melakukan registrasi pengetahuan melalui key result area, major activity, dan outcome, sangat penting untuk melakukan mapping dan membuat knowledge map,” tambah Yuli, alumni UPN di kelompok Sangatta Bengalon. Stadium General ini diikuti banyak mahasiswa, mayoritas dari FE, lantaran hal ini juga dipelajari dalam kuliah.

Ada banyak faktor penyebab kurang waspadanya dunia korporasi terhadap isu KM. Beberapa diantaranya adalah kurang peduli, tidak ada perencanaan, tidak ada standar berbagi pengetahuan, tidak ada sistem yang menarik, dan kurang sosialisasi. Hal ini menjadi tugas bagi praktisi di bidangnya, agar isu ini segera terselesaikan. (Lucia Yuriko)


comments
no comment

LAINNYA