6 Fakta Soe Hok Gie, Sang Pemuda ‘Pemberontak’ yang Jadi Inspirasi Kaum Muda
Potongan koran yang menggambarkan Gie (Photo via Hipwee)

Retno Wulandari

23 August 2017


6 FAKTA SOE HOK GIE, SANG PEMUDA ‘PEMBERONTAK’ YANG JADI INSPIRASI KAUM MUDA


Soe Hok Gie lahir di Jakarta, 17 Desember 1942. Jika diberi umur panjang, dia sudah berusia 75 tahun saat ini. Mungkin sudah jadi petinggi politik? Menteri? Presiden? Atau mungkin—lebih bisa dibayangkan—menjadi kritikus tua yang terus memperjuangan suara rakyat. Namun dalam masa hidupnya yang singkat, Gie telah membuat perubahan. Tak perlu jadi menteri atau presiden. Cukup menjadi mahasiswa kritis yang gemar menulis, yang akhirnya turun ke jalan.

Berikut beberapa fakta tentang Soe Hok Gie, yang membuatnya seperti sosok yang dikenal luas saat ini.

1) Gemar membaca buku-buku sastra sejak kecil

Sketsa wajah Soe Hok Gie (Photo via Malaka News)

Sejak kecil saat duduk di bangku sekolah, Soe Hok Gie dan kakaknya Soe Hok Djin (sosiolong Arief Budiman) sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di jalan-jalan Jakarta. Sejak masih SD, Gie bahkan sudah melahap karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Lulus SD, Gie sudah membaca kumpulan cerpen Pramoedya “Cerita dari Blora” yang saat itu langka. Entah dari mana ia mendapatkannya.

Pada saat kuliah, Gie akhirnya masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), Jurusan Sejarah.

2) Diintimidasi karena tulisan-tulisannya

Kecintaannya pada sastra dan sifat kritisnya menjadikan Gie penulis yang produktif. Artikel-artikelnya tersebar di Harian KAMI, Kompas, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya.

Dia paling sering menulis di rumah orangtuanya di Jalan Kebon Jeruk IX, dekat Glodok, Jakarta Barat. Tempat yang paling membuatnya terinspirasi adalah kamar di bagian belakang rumah yang temaram, banyak nyamuk, gerah saat malam hari, ketika semua orang terlelap dalam mimpi.

Tulisan-tulisan Gie dikagumi secara luas. Tapi nyatanya, ada juga yang tak suka. Gie pernah dikirimi surat kaleng oleh seseorang “pendukung Sukarno.” Si pengirim rupanya kesal dengan kritik-kritik Gie yang dimuat dalam mingguan Mahasiswa Indonesia. Surat itu berisi umpatan bernada rasis.

3) Hobi naik gunung, mendirikan Mapala UI

Gie yang suka naik gunung ikut mendirikan Mapala UI, UKM pecinta alam di kampus tersebut. Dia sempat mendaki Gunung Slamet, dan mengutip catatan harian Walt Whitman: “Sekarang saya melihat rahasia yang membuat orang jadi yang terbaik. Mereka tumbuh di udara terbuka, serta makan dan tidur beralaskan bumi.”

Dia lulus tahun 1969 dan menjadi dosen di almamaternya, Universitas Indonesia. Bersama Mapala UI, Gie ingin menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676 mdpl.

4) Mengirim bedak dan lipstik

Sebelum mendaki Semeru, Gie mengirim bedak, lipstik dan cermin kepada 13 aktivis mahasiswa yang menjadi anggota DPR setelah Orde Baru berkuasa. Harapannya, agar mereka bisa berdandan dan tambah "cantik" di hadapan penguasa. Ini adalah sebuah sindiran.

Gie kecewa dengan teman-teman seangkatannya. Di tahun 1966, mereka mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah. Namun kemudian, mereka berbalik berpihak kepada pemerintah, dan seolah lupa dengan visi dan misi perjuangan Angkatan ‘66. Gie menganggap teman-temannya sudah melupakan rakyat, dan lebih mementingkan posisinya di parlemen Orde Baru.

Pada tanggal 12 Desember 1969, Gie menulis, “Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmati kursi Anda--tidurlah nyenyak.”

5) Mengecam Pembantaian Kader dan Simpatisan PKI

Gie sangat vokal dalam mengkritik Partai Komunis Indonesia (PKI), namun dia juga tak menyetujuai pembantaian kader dan terduga simpatisan PKI setelah peristiwa G30S.

Esainya yang berjudul Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-besaran di Bali mengekspresikan pemikirannya. Dia menulis, “Selama tiga bulan, Bali berubah menjadi neraka penyembelihan. Jika di antara pembaca ada yang mempunyai teman putra Bali, tanyakan apakah dia punya seorang kenalan yang menjadi korban peristiwa berdarah itu. Tentu akan diiyakannya, karena memang demikianlah kenyataannya di Bali.”

Gie juga menentang stigmatisasi kader PKI. Salah satu contohnya adalah surat bebas G30S. Dia menganggapnya hal yang dibuat-buat.

Bahkan anak-anak SD kelas V dan IV (umur 12-14 tahun) harus punya surat ‘bersih diri.’ (bersih dari apa?) Tiga tahun yang lalu mereka baru berusia 9-11 tahun. Ini benar-benar keterlaluan," tulisnya dalam Surat Tidak Terlibat G30S yang dimuat di Kompas, 29 April 1969.

6) Perjuangannya berakhir di Mahameru


Tugu memori Gie di Mahameru (Photo via PMTG Adventure)

Kegemaran Gie naik gunung dan kecintaannya pada alam liar—ironisnya—menjadi “penentu” takdirnya. Soe Hok Gie meninggal di puncak Mahameru, Gunung Semeru, Jawa Timur, 16 Desember 1969. Dia tewas akibat menghirup asap beracun. Rekan mendakinya, Idhan Lubis, juga meninggal bersamanya saat itu.

Pada tanggal 8 Desember, beberapa hari sebelum berangkan ke Semeru, Gie sempat menulis, “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”


Sumber : Biografiku


comments
no comment

LAINNYA