Opini: Benarkah Konsep Perumahan Muslim Membahayakan Kebhinekaan?

Retno Wulandari

26 July 2017


OPINI: BENARKAH KONSEP PERUMAHAN MUSLIM MEMBAHAYAKAN KEBHINEKAAN?


Mungkin kalian sudah tahu tren Perumahan Syariah, atau mungkin Perumahan Khusus Muslim yang bermunculan di sekitaran Jakarta, seperti Depok dan Bogor. Perumahan bergaya townhouse semacam itu memiliki fasilitas layaknya perumahan modern pada umumnya, namun bedanya, hanya mereka yang beragama Islam yang diperkenankan untuk membeli rumah dan tinggal di sana.

Banyak keluarga Muslim menganggap ide pemukiman semacam itu brilian. Tapi ternyata, ada beberapa orang yang menganggap perumahan khusus Muslim sebagai ancaman bagi kebhinekaan dan persatuan Indonesia, dan menyarankan pemerintah untuk melarang jenis hunian semacam itu.

Perumahan Royal Sakinah (Photo via Myjakartaproperty)

Salah satu pemukim yang tinggal di perumahan Muslim adalah, Heni Rahayu yang diwawancara oleh portal berita Australia, ABC News, mengenai alasannya memilih tinggal di dalam komunitas Muslim.

Rumah yang ditempati Heni dan keluarganya adalah sebuah townhouse tiga kamar tidur yang modern dan minimalis, di kompleks perumahan baru yang terdiri atas 130 rumah dengan bentuk serupa. Kebanyakan rumah di sana masih dalam tahap pembangunan.

Saat ditanya wartawan, Heni merasa aman di sini, di sebuah perumahan Muslim yang tertutup, di mana hanya ada tetangga yang beragama Islam saja.

"Bagi saya, karena saya seorang Muslim, saya merasa nyaman tinggal di sini," katanya kepada ABC. "Lebih mudah beradaptasi di sini karena kita memiliki kepercayaan yang sama, bagaimana saya harus mengatakannya? Komunitas yang homogen membuat saya merasa nyaman."

Tetangga Heni semuanya beragama Islam, hidup dalam "harmoni Islam", seperi yang dipromosikan pengembangnya.

Perumahan khusus komunitas Muslim sudah menyebar sangat banyak di sekitar ibukota Jakarta, dan jumlahnya pun tidak ada yang menghitung. Yang pasti, seiring popularitasnya, jumlahnya pun semakin bertambah.

"Mereka ingin tinggal di lingkungan sekitar yang kondusif," kata Hadid seorang developer yang telah mengembangkan 13 townhouse. "Misalnya, jika mereka tinggal di daerah dengan non-Muslim, tetangga mereka mungkin memiliki anjing sebagai hewan peliharaan, mereka juga menginginkan sebuah kompleks perumahan di mana mereka bisa memiliki sebuah masjid kecil di dekatnya."

Sebetulnya keinginan seorang Muslim untuk tinggal berdekatan dengan Muslim lainnya bisa dipahami. Karena dalam ajaran agama Islam, terdapat beberapa ayat Al-Quran dan Hadist yang memerintahkan seorang Muslim untuk hijrah ke negeri Islam, dan tinggal berdampingan dengan orang-orang Islam.

Namun ternyata, keinginan orang Islam untuk tinggal di tempat yang homogen menurut beberapa orang bertentangan dengan cita-cita yang dimiliki oleh Indonesia, seperti keragaman dan kebhinekaan. Hal ini membuat mereka semakin khawatir, khususnya mengenai perubahan konservatif dalam pendekatan Islam.

"Akan sulit bagi seseorang untuk hidup dalam keragaman jika mereka tinggal di komunitas yang homogen ini," kata Alissa Wahid, anak mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kepada ABC.

Selama hidupnya, Almarhum Gus Dur, memang dikenal karena membela keragaman. Alissa mengatakan, perumahan Muslim harus dilarang oleh Pemerintah.

"Tren ini tidak berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat," kata Alissa seperti dikutip dari ABC News. "(Perumahan) ini seperti ghetto, di mana orang dipisahkan. Ini adalah segregasi, dan karena ini segregasi, sangat mudah muncul prasangka buruk."

Tapi ternyata perumahan Muslim telah berkembang dan pengembang properti telah mendapatkan keuntungan. Namun Hadid menyangkal adanya alasan konservatif di balik konsep perumahan Muslim.

"Saya tidak akan menggunakan kata 'konservatif' tapi orang sekarang lebih sadar akan nilai-nilai yang terkait dengan Islam," katanya.

Bagaimana menurut kalian? Apakah konsep perumahan Muslim ini berpotensi membahayakan keragaman, kebhinekaan, atau bahkan demokrasi di Indonesia? Atau apakah ini merupakan celah baru untuk menyudutkan Islam? Akankah pelarangan konsep hunian Muslim, jika memang nantinya dilarang, bisa menjadi awal mula pembatasan ruang gerak bagi penganut agama Islam di Indonesia?


comments
no comment

LAINNYA