Kalah Bersaing dan Rugi Terus Jadi Alasan Perusahaan Jual 7-Eleven
Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Irine Maharani

25 April 2017


KALAH BERSAING DAN RUGI TERUS JADI ALASAN PERUSAHAAN JUAL 7-ELEVEN


Induk usaha 7-Eleven, PT Modern Internasional Tbk (MDRN) akhirnya melepas kepemilikannya kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) yang tidak lain merupakan anak usaha PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
 
Pada tanggal 19 April 2017 lalu, CPIN menandatangani Business Acquisition Agreement dengan PT Modern Sevel Indonesia (MSI) senilai Rp 1 triliun.
CPRI sepakat menyetujui rencana pengambilalihan kegiatan usaha MSI di bidang rumah makan dan toko moderen/convenience store dengan merek waralaba, 7-Eleven.
Apa alasan perusahaan menjual 7-Eleven?
 
Induk usaha 7-Eleven, PT Modern Internasional Tbk (MDRN) akhirnya melepas kepemilikannya kepada PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) yang tidak lain merupakan anak usaha PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Pada tanggal 19 April 2017 lalu, CPIN menandatangani Business Acquisition Agreement dengan PT Modern Sevel Indonesia (MSI) senilai Rp 1 triliun.
CPRI sepakat menyetujui rencana pengambilalihan kegiatan usaha MSI di bidang rumah makan dan toko moderen/convenience store dengan merek waralaba, 7-Eleven.
 
Apa alasan perusahaan menjual 7-Eleven?

Mengutip keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (25/4), pertimbangan perseroan melalui MSI untuk menjual segmen usaha ini adalah karena segmen bisnis ini telah mengalami kerugian di tahun-tahun terakhir sebagai akibat dari kompetisi pasar yang tinggi serta pengembangan segmen bisnis ini diperlukan modal yang besar pada masa yang akan datang.
Direktur PT Modern Internasional Tbk (MDRN) Chandra Wijaya mengungkapkan, dengan dijualnya segmen usaha ini, maka perseroan masih memiliki bisnis lain yaitu sebagai distributor peralatan kesehatan medis di bawah merek Shimadzu dan Sirona, serta distributor Document Management Solution di bawah entitas anak PT Modern Data Solusi.
Nilai dari transaksi ini melebihi dari 50 persen nilai ekuitas perseroan per 31 Desember 2016 sehingga transaksi ini merupakan transaksi material dan perseroan sedang mempersiapkan seluruh prosedur dan dokumen yang dibutuhkan sebagaimana disyaratkan dan diatur dalam Peraturan Bapepam-LK No.IX.E.2.
 
Jika dilihat dari catatan keuangan perusahaan selama tahun 2016 (Januari-September 2016), capaian kinerja 7-Eleven kurang menggembirakan. Penjualan bersih anjlok hingga 23,4 persen.
Mengutip data keuangan induk perusahaan 7-Eleven PT Modern International Tbk (MDRN), penjualan bersih gerai 7-Eleven di Indonesia selama 2016 sebesar Rp 525,2 miliar. Angka tersebut turun 23,4 persen dibandingkan capaian di tahun 2015 yang sebesar Rp 686,6 miliar.

Sumber : Kumparan.com


comments
no comment

LAINNYA