Belajar Hadapi Politik Kantor: Pengakuan Mengejutkan Mantan Karyawan Uber

Retno Wulandari

07 March 2017


BELAJAR HADAPI POLITIK KANTOR: PENGAKUAN MENGEJUTKAN MANTAN KARYAWAN UBER


Setelah beberapa lama memasuki dunia kerja, tentu kamu paham bahwa tak selamanya kehidupan di kantor nyaman dan adem ayem. Beberapa perusahaan bahkan memiliki masalah karena politik kantor yang membuat operasional jadi kacau, salah satunya adalah startup aplikasi pemesanan kendaraan, Uber.

Uber tak mengawali tahun 2017 ini baik. Selain terlibat masalah pencurian teknologi dari Google, perusahaan ini juga dikenal memiliki sistem organisasi yang buruk, yang digambarkan oleh mantan karyawannya, Susan Fowler.

Fowler menuturkan pengalamannya sebagai karyawan Uber dalam sebuah blog, yang bisa memberi kita pelajaran khususnya mengenai pahitnya politik di kantor, dan bagaimana menghadapinya.

Sebagaimana dituturkan dalam blognya, Fowler bergabung di Uber pada November 2015 sebagai site reliability engineer (SRE). Awalnya, semua berjalan baik dan dia merasa senang karena bisa memilih sendiri tim yang sesuai keahliannya. Namun kemudian, hal-hal janggal mulai terjadi.

Hari pertama diawali pelecehan seksual

Setelah melalui masa training, Fowler masuk dalam tim pilihannya. Namun pada hari pertama, dia menerima pesan singkat dari manajer tim tersebut. Sang manajer mengatakan dia sedang dalam sebuah ‘hubungan terbuka’ dimana masing-masing bebas kencan dengan orang lain. Dia menyatakan sedang mencari wanita untuk teman tidur, dan Fowler langsung tahu bahwa si manajer mencoba untuk merayunya. Walaupun sudah melapor ke HRD, dia tak mendapat tanggapan yang diharapkan. Belakangan, Fowler mengetahui, beberapa kolega wanitanya juga telah menerima pelecehan serupa dari orang yang sama.

Perusahaan pilih kasih

HRD dan manajemen menyatakan tak bisa menindak si manajer karena dia baru ‘pertama kali melanggar.’ Mereka bilang akan menegurnya, namun tak bisa berbuat lebih jauh karena dia merupakan karyawan senior yang berprestasi. Namun ternyata, Fowler menemukan HRD dan manajemen tidak jujur, karena faktanya sudah banyak karyawan perempuan yang menerima perlakuan serupa. Jika Fowler bertahan di tim yang sama, HRD tak bisa membantu jika dia mendapat performance review yang buruk karena menolak si manajer. Fowler akhirnya memutuskan untuk pindah tim.

Politik kantor yang membuat kacau

Situasi kantor Uber juga kacau karena politik kantor yang tak sehat. Fowler menggambarkan situasinya mirip ‘game of throne’ dimana para manajer saling menjatuhkan satu sama lain, dan terang-terangan ingin merebut jabatan atasan langsung mereka. Salah satunya bahkan sesumbar bahwa dia akan mengisi jabatan atasannya dalam satu atau dua kuartal ke depan, dan yang lain mengatakan dia menyimpan informasi bisnis penting yang bisa dia gunakan untuk menjilat manajemen atas.

Proyek terbengkalai karena kacaunya organisasi

Imbas dari permainan politik mulai terasa. Fowler menceritakan banyak proyek yang terbengkalai, dan visi serta misi perusahaan terus berubah sehingga tak ada yang bisa memastikan prioritas organisasi. Karyawan selalu takut timnya akan dibubarkan, dan sering dilempar dari satu proyek tak selesai ke proyek tak selesai lainnya. Beruntung, tim Fowler merupakan kumpulan insinyur hebat yang mencintai pekerjaan mereka, sehingga situasinya masih bisa tertahankan.

Permainan performance review

Namun situasi tak kunjung berubah, sehingga Fowler akhirnya memutuskan untuk pindah tim. Sebelumnya hasil performance review-nya sempurna; dia tak pernah meleset dari deadline, dan ada manajer yang mengingkan dia masuk timnya. Semua syarat untuk pindah telah terpenuhi. Namun manajemen tak membiarkannya pindah. Setelah berbagai alasan yang terkesan dibuat-buat, manajemen menyatakan bahwa “masalah kinerja bukan satu-satunya aspek yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi ada masalah lain seperti hal-hal diluar pekerjaan dan kehidupan pribadi.” Fowler pun bertahan pada posisinya.

Beberapa bulan setelah penilaian kinerja berikutnya, Fowler kembali meminta untuk pindah tim. Walaupun nilainya sempurna, ditambah lagi dia telah menulis buku tentang pekerjaannya, dan telah berbicara di berbagai konferensi teknologi papan atas, dia tetap dianggap “tak memperlihatkan potensi untuk naik jabatan.”

Diskriminasi gender

Fowler juga menuturkan tentan diskriminasi gender dalam tubuh Uber. Ketika pertama bergabung, karyawan wanita di Uber mencapai 25 persen. Namun pada saat dia meminta pindah tim, jumlahnya merosot hingga lebih rendah dari enam persen. Ada dua alasan, pertama banyak karyawan perempuan yang dipindahkan, dan kedua banyak yang resign. Menurut perusahaan, “para wanita di Uber harus berusaha lebih keras untuk jadi insinyur yang lebih baik.”

Selama bekerja dan melihat berbagai pelanggaran, Fowler banyak melapor kepada HRD. Namun ternyata dia di-cap sebagai pengadu dan pengeluh oleh manajemen. Setelah menerima ancaman akan dipecat, Fowler akhirnya mendapat tawaran bekerja di perusahaan lain.

Bagaimana, apakah ada yang mengalami hal yang sama di kantor? Jika situasinya memang sudah tak kondusif, boleh koq mempertimbangkan untuk pindah.


comments
no comment

LAINNYA