SHARE :
Keren, Mahasiswa Ini Ciptakan Alat Monitor Pencegah Gangguan Listrik

Retno Wulandari

22 February 2017


KEREN, MAHASISWA INI CIPTAKAN ALAT MONITOR PENCEGAH GANGGUAN LISTRIK


Memang terkesan wajar jika terjadi bencana alam di suatu daerah, maka aliran listrik di daerah tersebut juga akan terganggu. Namun bagi M. Hadi Purnomo, sebetulnya hal tersebut bisa dicegah, asal tahu caranya.

Mahasiswa jurusan Teknik Elektro dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini lalu memikirkan sebuah sistem, lalu mewujudkan idenya menciptakan sebuah sistem Monitoring Pengawatan Tripping Coil dan Suhu Kontak di gardu-gardu listrik. Fungsinya adalah mengantisipasi terjadinya gangguan alam yang dapat mempengaruhi aliran listrik.

Awalnya, Hadi memperhatikan bahwa Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM), jaringan kabel-kabel listrik yang biasa kita lihat di tepi-tepi jalan, yang terhubung satu sama lain melalui tiang listrik, sangat rawan terhadap gangguan alam. Jika terjadi bencana atau gangguan alam, distribusi listrik kepada rumah-rumah dan bangunan lainnya akan terhambat.

“Sebagian besar saluran distribusi tersebut (70 persen) dialirkan kepada pelanggan melalui SUTM. Saluran tersebut sangat rawan terhadap gangguan alam yang dapat mempengaruhi distribusi aliran listrik,” kata Hadi seperti dikutip dari situs resmi Untag, Selasa, 21 Februari 2017.

Gangguan alam juga dapat merusak peralatan listrik milik pelanggan maupun milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai distributor tenaga listrik.

Untuk mencegah hal tersebut, terdapat seperangkat sistem proteksi yang berguna untuk melindunginya, seperti sistem proteksi kubikel 20Kv. Salah satu bagian dari kubikel 20Kv adalah Pemutus Tenaga (PMT). 

PMT bekerja sebagai penggerak mekanis operasional aliran tenaga listrik. Perangkat ini juga berperan penting dalam melepas sirkuit ketika ada gangguan hubungan singkat pada saluran listrik, sehingga titik gangguan dapat dilokalisir sehingga dapat mencegah pemadaman yang lebih luas.

Menurut Hadi, belakangan ini dia melihat beberapa permasalahan fungsional pada PMT feeder, sehingga tak maksimal dalam menjalankan tugasnya. Masalah yang ada pada PMT feeder itulah yang kemudian berbuntut pemadaman listrik di area yang cukup luas.

Bisa dibayangkan ketika hal tersebut terjadi pada PMT incoming feeder bahkan pada PMT sisi 150Kv. Permasalahan lainnya adalah kontak didalam PMT yang tidak dapat dilihat, sehingga tidak bisa diketahui kondisi kontak PMT, apakah masih kondisi prima. Hal ini dapat menimbulkan panas dan lama kelamaan mengakibatkan kerusakan pada PMT tersebut.

“Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan membuat alat monitoring pengawatan tripping coil dan suhu kontak PMT untuk mengantisipasi kegagalan trip dalam mengamankan gangguan hubungan singkat pada saluran tenaga listrik,” kata mahasiswa angkatan 2012 itu.

"Alat pemantau yang saya kembangkan ini dapat mengamankan gangguan hubungan singkat pada saluran tenaga listrik," ujarnya.

Menurut keterangan mahasiswa yang merupakan alumni SMA Negeri 2 Jombang ini, alatnya secara umum terbagi menjadi beberapa bagian, yakni sensor tegangan, sensor suhu LM35, sistem minimum micro-controller Arduino Mega 2560, display berupa LCD 20 x 4, serta indikasi audio dan visual.

Micro controller berfungsi untuk mengolah data digital yang diperoleh dari sebuah alat bernama optocoupler.

“(Data tersebut) dikonversikan oleh micro controller dan ditampilkan dalam format derajat Celcius pada layar LCD dan output indikasi audio dan visual,” jelasnya.

Pemuda kelahiran Mojokerto ini berharap, sistem yang dibuatnya dengan modal Rp5 jutaan ini bisa mendeteksi masalah yang terjadi pada sistem jaringan listrik lebih dini, sehingga masalah seperti PMT terbakar bisa dihindari, dan pemadaman listrik karena gangguan alam juga tidak sering terjadi.

SHARE : LINE

comments
no comment

LAINNYA