Polisi: Korban Kekacauan Lalu Lintas di Indonesia Jauh Lebih Banyak Daripada Terorisme
Kepadatan lalu lintas di Jalan Jend. Sudirman, kawasan komersil utama di Jakarta. (Shutterstock-AsiaTravel)

Retno Wulandari

28 November 2017


POLISI: KORBAN KEKACAUAN LALU LINTAS DI INDONESIA JAUH LEBIH BANYAK DARIPADA TERORISME


Kemacetan dan ketidak-teraturan lalu lintas di kota-kota besar Indonesia bagaikan sesosok malaikat maut yang haus darah. Korban tewas akibat kekacauan lalu lintas jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan korban kejahatan atau terorisme. Bisa kalian bayangkan itu? Jika sekarang saja keadaannya seperti itu, dengan makin banyaknya kendaraan yang diproduksi dan dibeli orang Indonesia, sementara tata kota dan sistem jalan hanya sedikit berubah, apa jadinya Indonesia 10-20 tahun mendatang?

Jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia telah mencapai sekitar 30.000 jiwa per tahun, sebuah angka menakutkan yang mengecilkan jumlah kematian terkait dengan tindak kejahatan atau tindak terorisme.

“Pikirkan sekitar 28.000 sampai 30.000 orang yang meninggal di jalan per tahun karena kecelakaan. Dibanding terorisme dan kejahatan (bedanya) sangat besar,” kata Kepala Kepolisian Lalu Lintas Nasional Royke Lumowa, seperti dikutip Detik.

Berbicara di sela Forum Polisi Lalu Lintas ASEAN di Hotel Borobudur di Jakarta Pusat, Royke menjelaskan bahwa penyebab utama kecelakaan fatal di jalan-jalan di Indonesia adalah dampak kecepatan tinggi—sesuatu yang perlu ditangani polisi dengan memusatkan perhatian pada peraturan lalu lintas yang lebih baik, terutama batas kecepatan.

Dia menambahkan bahwa isu tersebut biasanya tidak menarik perhatian media di Indonesia karena terjadi secara teratur, dengan setiap kecelakaan menghasilkan sejumlah korban yang rendah. Namun, jika angka disatukan, jumlahnya sangat mengejutkan.

Sementara tingkat kematian lalu lintas di Indonesia turun terutama sejak 2013 ketika data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 38.000 kecelakaan fatal atau 11,5 orang per 100.000 orang di Indonesia, masih jauh di belakang tetangganya Singapura yang pada 2013 memiliki tingkat kecelakaan hanya 3,6 orang per 100.000 orang.

Royke mengatakan tingkat kematian lalu lintas Singapura yang rendah terkait dengan kemampuan negara tersebut untuk mengatur lalu lintas dan menggunakan teknologi pendukung seperti kamera cepat dan gerbang tol elektronik.

Menurut kalian, kapan Indonesia bisa menggunakan teknologi dengan baik, dan mengurangi kemacetan sekaligus memangkas korban jiwa yang ditimbulkannya?


Sumber : Indonesia Expat


comments
no comment

LAINNYA